Tadabur: QS. Al-Fatihah [1]: ayat 4

 

مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْن

Penguasa Hari Pembalasan

(QS. Al-Fatihah [1]: 4)

Studi Kebahasaan

  • Kata malik juga dibaca mālik (dengan madd ‘pemanjangan’ bacaan huruf a). Terjemahan di atas berdasarkan bacaan malik. Akan halnya bacaan mālik berarti pemilik.
  • Kata al-dīn di akhir ayat, kendati galibnya, diartikan sebagai agama, di sini dan di ayat-ayat yang terkait dengan Hari Kiamat lebih tepat dipadankan secara harfiah dengan ‘pembalasan’ (al-jazā’). Perluasan makna al-dīn (pembalasan) hingga mencakup agama terjadi karena agama merupakan syariat dan ajaran yang mengatur berdasarkan hukum-hukum keadilan, dan hari keadilan yang sesungguhnya akan digelar oleh Allah SWT, Sang Pemilik Hari Pembalasan.

Hadis

  • Imam Hasan Al-Askari berkata, “Penguasa Hari Pembalasan”, yakni kuasa menyelenggarakan hari pembalasan, yaitu hari perhitungan; kuasa mempercepatnya dari waktunya dan menundanya setelah waktunya. Maka Dia pula Pemilik di hari pembalasan sehingga Dia memutuskan dengan kebenaran yang, pada hari itu, orang zalim dan menindas tidak memiliki menghukumi dan memutuskan sebagaimana orang berwenang menjatuhkan hukuman di dunia.” Ia berkata, “Amirul Mukminan Ali bin Abi Thalib berkata, “Hari pembalasan yakni ahri perhitungan. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidakkah kalian ingin aku beritahukan orang yang cerdas dan orang paling bodoh?’ Mereka berkta, ‘Iya, wahai Utusan Allah.’ Beliau bersabda, ‘Orang paling cerdas ialah orang yang memperhitungkan dirinya dan berbuat untuk setelah kematiannya. Dan orang paling bodoh ialah orang yang menuruti hawa nafsunya dan menggantungkan berbagai keinginan dari Allah SWT.’” (Al-Tafsîr Al-Mansûb ilâ Al-Imâm Al-Hasan Al-‘Askariy a.s., hlm. 38).
  • Diriwayatkan oleh Sulaiman bin Dawud dari Sufyan bin Uyainah dari Al-Zuhri, ia berkata, “Ali bin Husain [Zainal Abidin], salam sejahtera Allah atasnya, berkata, ‘Seandainya orang-orang di antara belahan timur dan barat mati, aku tidak merasa ketakutan lantaran sendirian manakala Al-Quran bersamaku.’ Ia acapkali membaca “Penguasa hari pembalasan”, mengulamng-ulangnya hingga seolah-olah hampir mati.” (Kulaini, Ushūl Al-Kāfī, jld. 2, hlm. 602).

Tadabur

  • Kendati Allah SWT Dialah yang senantiasa berkuasa dan berwenang atas segala sesuatu, mengapa kita masih mengatakan bahwa Dia penguasa dan pemilik kewenangan Hari Pembalasan? Ya, itu karena pada hari tersebut akan tampak hakikat yang sesungguhnya bahwa kekuasaan dan kewenangan hakiki hanyalah milik Allah. Tatkala kita mengatakan, Dialah pemilik mutlak kewenangan di Hari Pembalasan, tertutup sudah kemungkinan pihak yang berhak menjadi tak berhak, tidak terbuka lagi kemungkinan orang yang tak layak akan unggul di atas yang lain; semua mendapatkan bagian sesuai nilainya masing-masing berdasarkan keadilan dan pengadilan Allah Yang Mahatahu, Mahaadil, dan Mahabijaksana. Jadi, jika kiamat terjadi, dan pasti terjadi, manusia akan memperoleh ketenteraman dan kepuasan jiwa, karena segala urusan dan perkaranya dengan dirinya dan dengan orang lain sepenuhnya berada dalam genggaman kewenangan dan kekuasaan Allah sehingga sudah sepatutnya ia bersyukur kepada-Nya, “Puji syukur hanyalah milik Allah … Penguasa Hari Pembalasan.”
  • Balasan akhirat adalah batin perbuatan di dunia. Jika Allah penguasa urusan akhirat, batin dunia juga berada dalam kekuasaan-Nya. Maka itu, manakala mata batin kita terbuka, kita akan menyaksikan nyata di dunia ini juga bahwa pihak yang berhak tidak mungkin menjadi tak berhak dan kehilangan haknya, tidak mungkin orang yang tak layak memperoleh kedudukan dan kebahagiaan hakiki. Oleh karena itu, kejadian kiamat tidak perlu ditakuti, kalua bukan justru gerbang memasuki alam keadilan Yang Mahaadil.
  • Dalam ayat, kiamat diungkapkan dengan kata al-dīn (pembalasan). Kenapa?, karena pembalasan berhubungan dengan akhir kompetisi, yakni waktu penentuan hasil final. Dengan kata lain, Allah SWT penguasa urusan yang, di tangan-Nya, akhir segala sesuatu menjadi jelas. Karena itu, hari pembalasan adalah juga yawm al-hisāb ‘hari perhitungan’ (lih. Hadis no. 1 di atas).
  • Jika seseorang, minimalnya, barang lima kali sehari saja sadar diri dan ingat bahwa ada hari perhitungan dan segala urusan berada sepenuhnya dalam kekuasaan Allah Yang Mahatahu dan Mahateliti, dapat dipastikan kualitas diri dan nilai hidupnya meningkat; shalat, puasa, ibadah, muamalah dan perilaku social serta pemikiran kian terkendali sejalan dengan kehendak dan hukum Allah.
  • Orang yang memperdaya orang lain, menyalahgunakan jabatan untuk meraih posisi dan kekayaan, apakah dia benar-benar orang beruntung dan bahagia?! Dan kita yang tidak berbuat buruk seperti itu, apakah merugi dan sengsara? Jika Hari Pembalasan itu tidak ada, atau kalaupun ada namun berada dalam kekuasaan selain Allah, apa arti hidup, kesabaran, perjuangan dan pengorbanan?! Mana yang berakal waras: orang yang percaya pada hari pembalasan dan perhitungan di bawah kekuasaan Tuhan yang Mahatahu ataukah orang yang acuh tak acuh terhadap kekuasaan Allah dan hari itu?! Berdasarkan kriteria apa kita selama ini menilai untung dan rugi, baik dan buruk, waras dan tidak waras?!
  • Ayat-ayat “Puji syukur hanyalah milik Allah … Hari Pembalasan” mendorong kita agar memuji dan bersyukur kepada Allah manakala dipastikan bahwa akhir dan nasib segala sesuatu menjadi jelas, karena semua urusan dan perkara berada dalam kekuasaan-Nya. Keyakinan inilah yang menciptakan suasana damai dan nyaman dalam diri manusia; mendapatkan jaminan kejelasan perkara yang terlantarkan atau diabaikan di dunia. Sudah barang tentu, fokus pada Hari Pembalasan merupakan salah satu jalan mencapai maqam jiwa tenang (al-nafs al-mutma’innah).
  • Seorang muslim yang menanamkan keyakinan pada Allah SWT sebagai “Penguasa Hari Pembalasan” dalam dirinya, seolah tidak hidup dalam ukuran dunia ini. Oleh karena itu, kehidupan dan usaha para nabi dan imam-imam agama sulit dicerna oleh pemahaman masyarakat di jaman mereka, yaitu orang-orang yang hidup dan bekerja dalam kerangka keuntungan duniawi.
  • Dalam surah Al-Fatihah terdapat sifat-sifat dan nama-nama kesempurnaan yang datang beruntun mendeskripsikan Tuhan, yaitu: Allah, Tuan Pengatur alam-alam, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Penguasa Hari Pembalasan. Nama-nama ini menghimpun sebuah paket lengkap pandangan dunia dan system keyakinan tentang ketuhanan, dunia, dan manusia dengan gairah positif yang dilandasi oleh al-hamdu ‘puji syukur’. Yakni, puji syukur tercurahkan pada Allah, Dialah Tuhan, Pencipta dan Pengatur seluruh alam, dari rahmat-Nya segala sesuatu berawal dan berasal, dalam rahmat abadi-Nya orang-orang baik tenggelam hanyut dan kepada rahmat-Nya pula mereka kembali, bahkan akhir dan nasib seluruh makhluk yang baik maupun yang buruk, pada akhirnya, berada dalam kekuasaan-Nya.[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.