Tadabur: QS. Al-Fatihah [1]: ayat 6 (Bagian Pertama)

 

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ‏
       

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.”

(QS. Al-Fatihah [1]: 6)

Terjemah Kata

  • اهْدِنَا ‏ (ihdi-nā) = tunjukkanlah kami
  • الصِّرَاطَ (al-shirāt) = jalan
  • الْمُسْتَقِيْمَ (al-mustaqīm) = yang lurus

Studi Kebahasaan

  • Al-shirāt (jalan), menurut kalangan ahli Bahasa Arab, berasal dari al-sirāt. Kata ini menjadi al-shirāt atau perubahan dari huruf Shād ke Sīn terjadi lantaran pelafalan huruf Shād lebih dekat ke Tā’ (lih. Maqāyīs Al-Lughah, jld. 3, hlm. 350; Lisān Al-‘Arab, jld. 7, hlm. 340; Majmā’ Al-Bayān, jld. 1, hlm. 103). Abdullah bin Katsir membacanya dengan al-sirāt (Al-Durr Al-Mantsūr, jld. 1, hlm. 75). Makna popular dari sarat ialah menelan cepat (Kitāb Al-‘Ayn, jld. 7, hlm. 212). Sebagain ahli menjelaskan, kata ini banyak digunakan dalam banyak makna dan konteks, namun pada aslinya menunjukkan lenyapnya sesuatu lantaran ulang alik (Maqāyīs Al-Lughah, jld. 3, hlm. 152). Adapun penggunaannya pada jalan (al-shirāt) adalah dari segi terbukanya jalan yang begitu rata dan mulus seolah-olah menelan pejalan (Mufradāt Alfāzd Al-Qur’ān, hlm. 407) dan, tanpa melintasinya, pejalan akan jatuh keluar lintasan (Tafsīr Al-Mīzān, jld. 1, hlm. 33).
  • Al-mustaqīm (yang lurus) adalah bentuk derivatif dari pola morfologis istaqama, berasal dari akarkata qama yang berarti berdiri dan tegak, juga berarti melaksanakan perkerjaan (Maqāyīs Al-Lughah, jld. 5, hlm. 43). Sebagian ahli menguraikan, kata qama atau qiyam digunakan pada banyak hal dengan banyak makna: pada orang dengan makna berdiri, pada sesuatu dengan makna menjaga dan mengawasinya, pada urusan dan pekerjaan dengan makna melakukan, juga digunakan sebagai keadaan sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain. Semua makna ini digunakan dalam Al-Quran. Kiamat juga berasal dari kata ini mengingat manusia, pada hari itu, berdiri bangkit serempak. Sementara istiqamah adalah keadaan untuk suatu jalan yang tegak lurus dan, karena ini pula, jalan kebenaran disebut juga sebagai jalan lurus. Istiqamah juga digunakan sebagai sifat untuk manusia karena perilaku dan hidupnya bergerak di atas jalan lurus dan cara yang benar (Mufradāt Alfādz Al-Qur’ān, hlm. 690 – 692).
  • Ada perbedaan antara al-mustaqim dan al-mustawi; yang kedua digunakan pada perbandingan antara dua sesuatu yang mirip dan berada sejajar, sementara yang pertama digunakan pada keadaan dimana yang satu merupakan kelanjutan dari yang lain dalam satu arus. Karena itu, lawan al-mustawi atau al-istiwa’ adalah tafāwut (berbeda), dan lawan al-mustaqim adalah i‘wijāj (bengkok dan menyimpang) (Al-Furūq fi Al-Lughah, hlm. 150).

Hadis

  • Diriwayatkan oleh Ibrahim bin Jabir dari Muslim dari Abu Buraidah, berkenaan dengan firman Allah SWT, “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”, ia berkata, “Yaitu jalan Muhammad dan keluarganya” (Tafsīr Al-Tsa‘labī, jld. 1, hlm. 120). Kandungan yang sama juga terdapat dalam riwayat lain (lih. Ma‘ānī Al-Akhbār, hlm. 35).
  • Diriwayatkan oleh Al-Thabari dalam Al-Kabir dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Jalan yang lurus ini yaitu jalan yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk kita berada di atasnya” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsūr, jld. 1, hlm. 78). Dalam hadis masyhur, Rasulullah SAW bersabda, “Aku tinggalkan di tengah kalian dua hal yang sangat berharga yang, selama berpegang pada keduanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya: kitab Allah (Al-Quran) dan Keluargaku (Shahīh Muslim, jld. 4, hadis no. 2408 dan 1873). Di sebagian hadis disebutkan, “… dan sunnahku”, sebagai ganti dari “keluargaku”.
  • Diriwayatkan oleh Ali bin Hatim Al-Minqari dari Mufadhdhal bin Umar, ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far Al-Shadiq) tentang al-shirāt (jalan) lalu ia berkata, ‘Itulah jalan menuju Allah SWT, dan itu ada dua jalan: jalan di dunia dan jalan di akhirat. Jalan di dunia ialah imam yang wajib ditaati oleh orang yang mengenalnya di dunia dan berjalan dengan petunjuknya. Ia akan melintas di jalan yang merupakan jembatan jahanam di akhirat. Maka, barangsiapa tidak mengenalnya di dunia, kakinya pasti tergelincir dari jalan di akhirat hingga jatuh ke dalam neraka jahanam.’” (Ma‘ānī Al-Akhbār, hlm. 33).
  • Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yasar dari kedua orang tuanya dari Imam Hasan a.s. bahwa Imam Ali bin Abi Thalib tentang firman-Nya, “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”, berkata, “Tuhanku, tetapkanlah senantiasa keberhasilan darimu yang, dengannya, kami taat kepadamu di hari-hari lampau kami hingga kami tetap demikian taat kepadamu di usia lanjut kami. Dan jalan yang lurus ialah dua jalan: jalan di dunia dan jalan di akhirat. Jalan lurus di dunia ialah apa yang terputus dari bersikap berlebihan, terjaga dari bersikap kurang, konsisten sehingga tidak menyimpang sedikit pun ke arah kebatilan. Dan jalan lain yaitu jalan orang-orang beriman menuju surga. Inilah jalan lurus yang di atasnya mereka tidak menyimpang dari surga menuju neraka, juga tidak menuju ke selain neraka kecuali surga”  (Ibid., hlm. 35; Al-Tafsîr Al-Mansûb ilâ Al-Imâm Al-Hasan Al-‘Askariy a.s., hlm. 44).
  • Imam Hasan melanjutkan, “Dan Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq a.s., tentang firman-Nya SWT, “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”, mengatakan, ‘Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, bimbinglah kami untuk teguh di atas jalan yang bersambung kepada kecintaan pada-Mu, menyampaikan kepada agama-Mu, dan yang menghalangi kita mengikuti hawa nafsu kita hingga kita hancur, atau kita berpegang pada pendapat pribadi kita hingga kita binasa.’ Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya orang yang mengikuti hawa nafsu dan puas dengan pendapatnya sendiri seperti orang yang kudengar puja puji masyarakat awam yang mengagungkannya.” (Ibid.). Bersambung ⇒

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.