Tadabur: QS. Al-Fatihah [1]: ayat 7 (Bagian Pertama)

 

صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالِّيْنَ

Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka yang bukan orang-orang yang dimurkai juga bukan orang-orang yang sesat.”

(QS. Al-Fatihah [1]: 7)

Terjemah Kata

  • صِرَاطَ         (shirāt)              = jalan
  • الَّذِيْنَ            (alladzīna)       = orang-orang yang
  • أَنْعَمْتَ          (an‘amta)         = Engkau memberikan nikmat
  • عَلَيْهِمْ           (‘alayhim)        = kepada mereka
  • غَيْرِ             (ghayr)              = bukan
  • الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ  (al-maghdhūb ‘alayhim) = orang-orang yang dimurkai
  • الضَّالِّيْنَ        (al-dhāllīn)    = orang-orang yang sesat

Studi Kebahasaan

  • Shirāt (jalan) di awal ayat secara sintaksis berfungsi sebagai badal (pengganti) atau sifat bagi “jalan yang lurus” di akhir ayat sebelumnya. Maka, kata ini dalam rangka menjelaskan jalan yang lurus (Zamakhsyari, Al-Kasysyāf, jld. 1, hlm. 15; Al-Thabarsi, Majma‘ Al-Bayān, jld. 1, hlm. 106; Al-Nuhas, I‘rāb Al-Qur’ān, jld. 1, hlm. 20).
  • Ghayr (bukan) bisa berfungsi sebagai sifat atau sebagai badal bagi alladzīna. Adapun lā di akhir ayat bisa sebagai partikel eksesif yang tak bermakna kecuali untuk menegaskan negasi, juga bisa berupa partikel aktif yang bermakna ghayr (Zamakhsyari, Al-Kasysyāf, jld. 1, hlm. 16; Al-Thabarsi, Majma‘ Al-Bayān, jld. 1, hlm. 107; Al-Nuhas, I‘rāb Al-Qur’ān, jld. 1, hlm. 22).
  • Berdasarkan pemaknaan sintaksis per kata ini dapat ditarik kesimpulan bahwa, tidak sebagaimana lazimnya dipahami, ayat ini sesungguhnya tidak dalam rangka menjelaskan tiga kelompok orang. Yakni, ia tidak menyatakan bahwa inilah jalan orang-orang yang Allah berikan nikmat kepada mereka dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai juga bukan jalan orang-orang yang sesat sehingga, dengan begitu, seolah Allah memberikan nikmat kepada satu kelompok, namun tidak kepada dua kelompok lain. Memang, secara implisit ayat ini tampaknya menyinggung tiga kelompok manusia: kelompok pemerima nikmat ilahi, kelompok yang dimurkai, dan kelompok yang sesat. Namun jika diamati susunan kalimat ayat ini dan ayat sebelumnya, makna gramatikal (siyāq al-jumlah)-nya terfokus dalam rangka menjelaskan jalan yang lurus, dan jalan ini adalah jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dan, pada saat yang sama, mereka ini bukan orang yang dimurkai Allah juga bukan orang sesat.
  • Pemaknaan dan terjemahan di atas ini juga menunjukkan perbedaan dengan galibnya terjemahan yang ada, bahwa diberi nikmat tidak bertentangan dengan dimurkai ataupun keadaan sesat, akan tetapi semua mendapatkan nikmat Allah. Hanya bedanya, sebagian orang mendapatkan nikmat tetapi juga dimurkai atau berada dalam kesesatan, ada pula orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dan sedemikian teguh berjalan di atas jalan petunjuk hingga mereka tidak dimurkai juga tidak sesat.
  • Memang, tidak sedikit riwayat yang menjelaskan “orang-orang yang dimurkai” yaitu Yahudi dan “orang-orang yang sesat” yaitu Nasrani. Ini tidak bertentangan dengan pemaknaan di atas tadi, kalau bukan justru menguatkan, bila kita merujuk ayat-ayat lain. Al-Quran berkali-kali menyinggung berbagai nikmat besar yang diberikan kepada Ahlul Kitab, dan, khususnya, kepada bangsa Yahudi (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 40, 47, 122). Artinya, Allah SWT juga memberikan nikmat kepada mereka. Kendati demikian, mereka ditimpa murka-Nya atau, setidaknya, berada dalam kesesatan. Bersambung⇒

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.