QS. Al-Ikhlas [112]: ayat 2, Kemerdekaan dalam Kebergantungan

 

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah dialah tempat bergantung.”

(QS. Al-Ikhlas [112]: 2)

Abstrak

  • Dua makna shamad: tidak bergantung dan tempat bergantung.
  • Hubungan shamad dengan ahad (esa).
  • Hubungan Allah sebagai shamad dengan deskripsi Allah di ayat-ayat setelahnya.
  • Kepercayaan pada Allah sebagai shamad membangun kewibawaan dan ketangguhan.

Studi Kebahasaan

  • Shamad hanya digunakan sekali saja dalam Alquran.
  • Secara leksikal, kata shamad mengandung dua makna: pertama menuju dan, atas dasar ini, shamad yaitu orang berkedudukan tinggi yang menjadi tumpuan yang dituju oleh semua orang dalam menyelesaikan kebutuhan mereka. Makna kedua yaitu padat, keras dan kokoh. Karena itu, sesuatu yang sepenuhnya padat dan di dalamnya tidak ada celah apa pun disebut juga dengan shamad (Maqāyīs al-Lughah, jld. 3, hlm. 309; Mufradāt Alfāzh al-Qur’ān, hlm. 493).
  • Tatkala kata shamad ini digunakan pada Allah, maka berdasarkan makna pertama, ia berarti ketergantungan semua makhluk kepada Allah SWT; Dia sumber kecukupan, asal kesempurnaan dan kekuatan, namun berdasarkan makna kedua, ia berarti ketakbergantungan dan ketakbutuhan Allah kepada apa pun selain-Nya lantaran kesederhanaan dan ketaktersusunan-Nya.

Hadis

  • Muhammad bin Muslim meriwayatkan dari Abu Abdillah Imam Ja’far Shadiq, ia berkata, “Kaum Yahudi pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Mereka mengatakan, “Gambarkan Tuhanmu kepadaku!” Namun beliau tidak menjawab mereka sampai tiga hari kemudian turunlah surat ini sampai akhir ayat. Aku bertanya kepada Imam Shadiq, “Apa shamad itu?” Beliau berkata, “Yaitu dia yang tidak ada kekosongan pada diri-Nya.” (Shaduq, Kitāb al-Tawhīd, hlm. 93).
  • Diriwayatkan oleh Dhahhak dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Orang-orang Quraisy Mekkah berkata kepada Nabi saw., “Terangkanlah Tuhanmu kepada kami agar kami mengenal-Nya dan menyembah-Nya!” Lalu Allah menurunkan kepada Nabi saw. “Katakan dialah Allah yang esa”, yakni tidak terbagi, tidak terpecah dan tidak beratribut, tidak berlaku pada-Nya nama bilangan, tidak ada kekurangan juga tidak ada penambahan pada-Nya; “Allah tempat bergantung”, yang ke kepada-Nya semua keinginan berakhir, kepada-Nya menuju seluruh makhluk di langit-langit dan bumi beserta segenap kebutuhan mereka.” (Tafsir al-Qummiy, jld. 2, hlm. 449).
  • Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Shamad yaitu Tuan yang dipatuhi yang tidak ada pemerintah dan pelarang di atas-Nya.”
  • Imam Ali Zainal Abidin ditanya tentang shamad, ia berkata, “Shamad yaitu Dia yang tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak lalai menjaga sesuatu juga tidak ada sesuatu apa pun yang luput dari-Nya.” (Majma’ al-Bayān, jld. 10, hlm. 861; Kitāb al-Tawhīd, hlm. 90).

Tadabur

  • Pada hemat Allamah Thabathaba’i, makna asli kata shamad yaitu sesuatu teratas yang padanya semua kebutuhan orang tercukupi dan, mengingat Allah pencipta segala sesuatu, setiap sesuatu akan menuju Allah untuk tercukupi kebutuhannya. Maka, shamad yaitu tujuan akhir dan maksud utama semua makhluk untuk memenuhi kebutuhan mereka. Atas dasar itu, ayat ini terkait erat dengan ayat sebelumnya, dimana dua kata ahad (esa) dan dan shamad (tempat bergantung dan sumber kecukupan) secara berurutan mendeskripsikan Allah baik pada tingkatan esensi maupun pada tingkatan tindakan.
  • Jika shamad bermakna sesuatu yang penuh, padat dan tak bercelah juga tak kosong, maka ayat ini berarti bahwa Allah tidak butuh sama sekali kepada apa pun selain-Nya; tidak ada kekosongan sehingga dipenuhi oleh selain-Nya. Atas dasar ini, ayat ini berkaitan erat dengan ayat setelahnya. Bahkan ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sampai akhir surah. Yakni, Allah tidak melahirkan, tidak dilahirkan, dan tidak ada yang setara bagi-Nya adalah uraian dan tafsir atas shamad dalam ayat ini (Al-Mīzān, jld. 20, hlm. 672).
  • Berdasarkan kaidah bahasa validitas penggunaan satu kata dengan lebih dari satu makna, akan lebih tepat bila kata shamad ini juga dipahami dengan dua makna. Maka, shamad yaitu Realitas Tertinggi yang sama sekali tidak ada kebutuhan dan kebergantungan apa pun pada diri-Nya, dan shamad juga berarti Realitas yang merupakan sumber keberadaan dan kesempurnaan segala sesuatu; pemenuhan semua kebutuhan hanya tertuju dan terealisasi pada-Nya. Oleh karena itu, sekali lagi, ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya dan ayat-ayat setelahnya.
  • Menarik juga untuk diamati mengapa, dalam ayat ini, kata shamad dinyatakan awal al (alif-lam) sebagai partikel definisi menjadi al-shamad, sementara di ayat sebelumnya kata ahad dinyatakan tanpa partikel al, padahal keduanya sama-sama bertempat sebagai predikat. Ya, walaupun Allah dialah Tuhan yang tidak membutuhkan semua dan semua butuh kepadanya, akan tetapi secara logis tidak menafikan pemahaman bahwa selain Tuhan juga memiliki atribut-atribut ini (tidak bergantung pada semua dan semua bergantung padanya). Karena itu, dengan membubuhkan presiks al sebagai partikel definisi pada predikat shamad untuk Allah, maka predikat dan sifat ini hanya berlaku pada Tuhan. Sementara kata ahad di ayat sebelumnya dengan sendirinya tidak menyisakan peluang apa pun bagi selainnya untuk diasumsikan sebagai yang kedua bagi-Nya sehingga, karena itu, tidak dibutuhkan partikel pendefinisian Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan (Al-Mīzān, hlm. 20, hlm. 388).
  • Lalu, kenapa pula dalam ayat ini kata ‘Allah’ kembali terulang, padahal di ayat sebelumnya kata Allah sudah dinyatakan; kenapa tidak difirmankan, misalnya, “Dialah tempat bergantung”. Tampaknya, masing-masing dari dua ayat ini sebagai dua statemen dan proposisi sudah cukup untuk mendeskripsikan Allah. Yakni, untuk memperkenalkan Allah, kita cukup mengetahui bahwa Allah adalah esa, atau Allah adalah tempat bergantung (Al-Mīzān, jld. 20, hlm. 388). Penjelasan ini dapat diamati pula dalam hadis pertama.
  • Seorang muslim yang percaya bahwa Allah adalah shamad ‘tempat bergantung’ tentu menyadari bahwa Dia adalah Realitas yang penuh sempurna, tanpa kekosongan dan celah kekurangan apa pun; Dia Tuan yang segala sesuatu kembali kepada-Nya dan ketuanannya tidak akan pernah lenyap; Dia adalah Realitas Tertinggi dan Mahakaya hingga tidak menyisakan celah apa pun bagi selain-Nya sebagai yang kedua dan sekutu bagi-Nya; Dia tak kenal lelah menjaga segala sesuatu dan tidak ada segala sesuatu pun yang lepas dari jangkauan-Nya. Secara singkat, Dia tempat berlindung yang tidak ada perlindungan apa pun diatasnya; semua tindakan dan peristiwa berada di tangan-Nya, dan setiap kekuatan dan kekuasaan di alam ini hanya bekerja di bawah pengawasan-Nya.
  • Muslim dengan iman dan kepercayaan ini sudah barang tentu tidak takut ataupun gentar menghadapi kekuatan dan ancaman dari pihak mana pun. Banyak pemerintahan yang bergantung pada negara-negara yang disebut kuat hingga mereka kehilangan kemandirian dan independensi bangsa. Padahal, semua negara dan rezim ini pijakan-pijakan yang rapuh. Pijakan yang tokoh dan sandaran yang tangguh itulah Allah tempat bergantung. Sudah semestinya setiap bangsa Muslim agar senantiasa mencurahkan fokus hanya kepada Allah, tidak berharap pada negara-negara itu. Kekuatan Allah di atas segala kekuatan. Sejarah awal Islam bersama Nabi saw. Dan umat Islam telah membuktikan ini dan umat berikutnya akan membuktikan lembali. Tidak sepatutnya bangsa Muslim merasa lemah dan inferior di hadapan kekuatan mana pun selama percaya sepenuhnya bahwa Allah swt. bersama mereka.[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.