Tadabur: QS. Al-Mukminun [23]: ayat 18

 

وَ أَنْزَلْناَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ وَ إِنَّا عَلَى‏ ذَهاَبٍ بِهِ لَقاَدِرُونَ

 “Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu Kami menjadikannya [menetap] di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa menghilangkannya.”

(QS. Al-Mukminun [23]: 18)

Hadis

  • Imam Muhammad Al-Baqir ra. berkata, “Sesungguhnya tidak ada tahun yang kurang curah hujannya, namun Allah menempatkan hujan itu sesuai dengan kehendak-Nya; bilamana orang-orang bermaksiat, maka Allah SWT akan memindahkan hujan itu, yang tadinya ditetapkan bagi mereka pada tahun itu, ke selain mereka, ke dataran, lautan dan pegunungan.”  (Ushūl Al-Kāfi, jld. 2, hlm. 272).
  • Syaikh Baha’i mengutip bahwa Ibn Abbas, seorang sahabat Nabi SAW dan murid Imam Ali ibn Abi Thalib ra. dalam tafsir, menafsirkan ‘air’ dalam ayat di atas sebagai ilmu (Minhāj Al-Najāh fi Tarjamat Miftāh Al-Falāh, hlm. 42).

 Studi Kebahasaan

  • Kata waw (dan) dalam redaksi “wa innâ ‘alâ dzihâb-in bihi la qâdirȗn”  dapat berfungsi sebagai wāw hāliyyah (I’rāb Al-Qur’ān Al-Karīm, jld. 2, hlm. 326) juga sebagai wāw ‘athaf (I’rāb Al-Qur’ān wa Bayānuh, jld. 6, hlm. 50).
  • Dalam fungsi pertama, waw bermakna “Kami jadikan air itu menetap di bumi padahal kami dapat melakukan sebaliknya sehingga tidak ada air yang tersisa bagi kalian.” Dalam fungsi kedua, waw akan bermakn seperti ini, “Kami jadikan air itu menetap namun kami dapat menghilangkannya sehingga tidak ada air tersisa bagi kalian.”  Pada umumnya terjemahan-terjemahan al-Quran memaknai redaksi ayat ini berdasarkan fungsi kedua ini.

Tadabur

  • Kata ganti Kami menunjukkan bahwa Dialah Allah yang menurunkan hujan dan menetapkannya di bumi. Benar bahwa awan, angin, matahari dan galaksi turut berpengaruh dalam proses turunnya hujan, namun segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah SWT. Jadi, peran Allah harus benar-benar mendapat perhatian dalam setiap gejala dan peristiwa.
  • Allah SWT menurunkan hujan dan menempatkannya di bumi. Jika air jatuh ke bumi dan turunnnya jauh dari jangkauan, atau ia menjadi gumpalan uap (tabkhir), itu tidak akan bermanfaat. Sudah barang tentu, Allah mampu melakukan hal ini atau melakukan hal yang lain supaya hujan tidak memberikan manfaat. Sekiranya Allah tidak melakukan hal-hal ini, bukan berarti bahwa Dia tidak kuasa melakukannya. Kekuasaan Allah pada setiap peristiwa yang dapat melakukan sebaliknya harus mendapatkan perhatian kita semua. “Tangan” dan kekuasaan Allah SWT tidak terbatas.
  • “… lalu Kami menjadikannya [menetap] di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa menghilangkannya.” Penggalan ini menerangkan bahwa segala anugerah yang diperoleh makhluk bisa saja tidak diberikan atau ditangguhkan oleh Allah SWT, atau sedemikian Dia memberi sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Ini artinya kita harus menaruh perhatian atas kemurahan Allah SWT dalam setiap keadaan.
  • Allah SWT menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu. Artinya perbuatan Allah itu terukur dan akurat. Maka, kita harus menaruh perhatian terhadap hikmah ‘kebijaksanaan’ Allah SWT dalam setiap keadaan.
  • Amal perbuatan kita dapat mengurangi dan menambah bagian kita dari ukuran-ukuran yang telah ditetapkan. Apabila bagian kita berkurang, itu disebabkan oleh diri kita sendiri (hadis pertama). Maka, kita harus menaruh perhatian terhadap murka Allah SWT.
  • Menghilangkan dapat bermakna memusnahkan; juga dapat berarti memindahkan ke tempat lain (hadis pertama); juga bermakna menggerakkan sebagai lawan dari menetapkan. Hal ini menyinggung bahwa kita tidak dapat menguasainya atau mendatangkan banjir sehingga, alih-alih berguna bagi kita, justru membuat kita menderita.
  • Yang dimaksud dengan langit (samā’) dalam ayat ini adalah langit yang terbatas pada bumi yang berada di lapisan ozon, karena turunnya hujan berkaitan dengan aksi dan reaksi planet bumi yang kita huni. Samā’ (langit) dalam al-Quran memiliki berbagai makna.
  • Harap diperhatikan bahwa hanya turunnya hujan memberikan sedemikian banyak anugerah. Pertama-tama, seluruh mekanisme yang ada untuk turunnya hujan harus terkoordinasi dengan baik dan sistemik sehingga hujan turun, kemudian air hujan itu menetap di bumi dan darinya bermunculan karunia lainnya. Sejatinya, di balik seluruh karunia ini, kita menyaksikan kekuasaan (qudrah), kebijaksanaan (hikmah) dan kemurahaan (luthf) Allah SWT.
  • Meski setiap ayat tidak mesti bertautan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, namun secara khusus ayat ini dimulai dengan wāw athaf. Artinya, ayat sebelumnya amat bertalian erat dengan ayat selanjutnya (ayat yang menjadi obyek bahasan). Di ayat sebelumnya, Allah SWT berfirman bahwa Dia tidak mengabaikan ciptaan-Nya. Allah tidak melalaikan kita. Apakah lantas kita juga sama; tidak mengabaikan Tuhan kita sendiri? Allah tidak lalai; Dia menurunkan hujan. Karena itu, apabila hujan turun, kita percaya bahwa Allah SWT tidak melalaikan kita.
  • Ketelitian dalam mengamati ungkapan-ungkapan ayat ini dapat menjadi bahan untuk penafsiran saintifik atas ayat ini. Ungkapan-ungkapan (pengaruh beragam faktor atas turunnya hujan), penurunan (inzāl), seukuran tertentu (bi qadar), menetapnya air di bumi (sukūnah) dan pengaruh hujan atas penciptaan makhluk-makhluk lainnya, menetap dan tidak hilangnya air di bumi adalah hal-hal yang dapat menjadi bahan untuk penafsiran saintifik atas ayat ini.[ak]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.