Tadabur: QS. Al-Mursalat [77]: ayat 7

 

إِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَوَاقِع‏

Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.”

(QS. Al-Mursalat [77]: 7)

Terjemah Kata

  • تُوعَدُونَ (tū‘adūna)   = kalian dijanjikan
  • واقِع      (wāqi‘)        = terjadi, nyata

Hadis

  • Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Syafi’i dari Abu Qirshafah bahwa Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat, jangan pula Engkau permalukan kami di hari perjumpaan” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsūr, jld. 4, hlm. 185).
  • Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah berbohong, tidak pernah dibohongi, tidak pernah tersesat, tidak pernah disesatkan, juga tidak pernah lupa akan apa yang telah Dia janjikan kepadaku. Jika demikian, sungguh aku sudah menjadi pelupa. Dan aku benar-benar berada di atas bukti nyata dari Allah yang Dia telah jelaskan kepada Nabi-Nya SAW lalu ia menjelaskannya kepadaku. Dan aku benar-benar berada di atas jalan yang terang yang kutempuh selangkah demi selangkah” (Amālī Al-Shadūq, hlm. 407; Nahj Al-Balāghah, hikmah no. 185).
  • Imam Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Dan jika mereka melewati suatu ayat yang mengandung rayuan, mereka terpikat kepadanya dengan penuh asa, jiwa mereka memburunya dengan kerinduan seolah-olah nyata di depan mata mereka. Namun, bila mereka melewati suatu ayat yang mengandung ancaman, mereka mencerahkan segenap pendengaran hati mereka kepadanya seolah-olah raungan jahanam dan gelegar apinya di dinding gendang telinga mereka” (Nahj Al-Balāghah, pidato no. 193).

Studi Kebahasaan

  • Wāqi‘ (terjadi) berasal dari wuqū yang berarti turun dan menetap, seperti burung yang turun mendarat dan menetap. Ini seolah-olah apa yang dijanjikan kepada kita akan jatuh menimpa ke atas kita hingga merembas ke segenap wujud diri kita. Hari jatuhnya janji itu pasti tiba. Kata ini dengan kandungan makna yang sama juga dijumpai dalam QS. Al-Qyura [42]: 22.
  • Wāqi‘ (terjadi) adalah nomina subjek yang mengandung makna tetap dan berlangsung. Dalam ayat tidak diungkapkan, “akan terjadi”. Wāqi‘ berarti sedang terjadi dan tetap dalam keadaan berlangsung. Kiamat itu juga terjadi di sini, sekarang ini, dalam dimensi batin dunia, bukan terjadi kelak di masa mendatang. Terkait orang yang memakan harta anak yatim, Al-Quran mengungkapkan, “sebenarnya mereka itu sedang memakan api di dalam perut mereka” (QS. Al-Nisa’ [4]: 10).
  • Wāqi‘ dalam bahasa Arab juga berarti fakta. Wāqi‘ yaitu sesuatu yang terjadi sebagai realitas yang nyata, dan ini identik dengan fakta. Maka, ayat ini juga bisa diterjemahkan begini, “Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu adalah fakta”, yakni realitas yang nyata.

Tadabur

  • Di banyak ayat, Allah berkali-kali mengulang kandungan ayat ini dengan penekanan yang berbeda-beda (lihat QS. Al Imran [3]: 152, 194; QS. Al-Nisa’ [4]: 95, 122; QS. Yunus [10]: 4, 55; QS. Ghafir [40]: 55, 77). Jika kita benar-benar percaya bahwa apa yang dijanjikan Allah kepada kita itu pasti nyata dan terjadi, tentu kita tidak akan berbohong; jika kita mendapat petunjuk dan tidak sesat, kita juga tidak akan menyesatkan orang.
  • Tingkat kepercayaan ini akan berpengaruh dalam membaca Al-Quran; reaksi pikiran dan emosi kita akan berbeda tatkala membaca ayat-ayat ancaman dan ayat-ayat-ayat janji bahagia (lihat QS. Al-Isra’ [18]: 106-108). Jika keadaan jiwa kita sama saja, tidak ada bedanya, dalam membaca ayat apa saja, patut segera kita meninjau kualitas iman dan kepercayaan kita akan kenyataan janji Allah.
  • Perlu juga kita menimbang dan mengukur kepercayaan diri kita pada orang lain dan pada Tuhan. Agama dan Al-Quran adalah hukum kehidupan, namun dalam praktek dan hidup keseharian, urusan dan agenda kita buat kerap didasarkan pada penjelasan dan argumentasi orang-orang sehingga, atas dasar itu, kita berusaha merealisasikannya.
  • Kata kerja tū‘adūna adalah dalam bentuk mudhari’, kata kerja presentif yang sedang berlangsung, yakni sedang dijanjikan kepadamu. Maka, sekarang ini juga kita sedang dijanjikan oleh Allah. Apakah kita peduli dan menganggap penting janji Allah ini.
  • Ayat ini didahului oleh lima kali sumpah Allah SWT, dan ia menempati fungsi jawaban atas rangkaian sumpah Ilahi itu. Tentu ada hubungan khas antara sumpah dan jawabannya. Sumpah-sumpah itu merupakan alat yang digunakan Allah SWT untuk lebih menguatkan penegasan atas jawabannya, yaitu kandungan ayat ini. Ini mengingat saking nyamannya kita dengan hal-hal material dan keduniaan hingga kita lalai dengan tujuan utama di balik semua ini dan menganggap hal-hal kebendaan ini sebagai yang hakiki. Dengan rangkaian sumpah ini Allah hendak mepersiapkan diri kita untuk mudah menyadari bahwa fakta dan realitas yang sesungguhnya nyata adalah janji-janji Allah di balik permukaan duniawi ini. Ya, masalah diri kita bukan hanya kebodohan. Sekalipun sudah tahu, kita masih bisa lalai dan lengah. Ini jauh lebih serius.[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.