Tadabur: QS. Ghafir [40]: ayat 17 (Bagian Pertama)

 

الْيَوْمَ تُجْزَى‏ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ‏

Pada hari ini setiap jiwa akan dibalas atas apa yang diperbuatnya; tidak ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah Mahacepat menghitung.”

(QS. Ghafir [40]: 17)

Terjemah Kata

  • الْيَوْمَ      (al-yawm) = hari ini
  • تُجْزَى    (tujzā)      = dibalas
  • ‏ كُلُّ       (kullu)      = setiap
  • نَفْسٍ      (nafs)       = jiwa
  • كَسَبَتْ   (kasabat) = berbuat, berusaha
  •  ظُلْم     (zdulm)    = kezaliman
  • سَرِيْعُ    (sarī)        = cepat
  • الْحِسَابِ (al-hisāb) = hisab, perhitungan, pertanggungjawaban

Hadis

  • Jabir bin Abdillah berkata, “Seorang sahabat Nabi saw. mendengar sabda Rasulullah saw. tentang hukum Qishash yang belum aku dengar. Lalu aku membeli seekor unta dan kupersiapkan perjalanan. Aku berjalan lalu tiba di sebuah kota hingga aku masuk negeri Mesir. Aku segera menjumpai Abdullah bin Unais. Kepada penjaga gerbang aku berkata, ‘Sampaikan kepadanya bahwa Jabir ada di depan gerbang!’ Ia bertanya, ‘Anak Abdullah?’ ‘Ya’, jawabku. Lalu penjaga itu menemui Abdullah dan menyampaikan pesanku kepadanya. Ia segera bangkit hingga menginjak pakaiannya dan keluar. Ia memelukku dan aku memeluknya. Aku katakana kepadanya, ‘Sebuah hadis telah aku dengar darimu bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah saw., namun aku belum pernah mendengarnya tentang hukum Qishash. Aku takut mati atau engkau mati sebelum aku mendengarnya.’ Maka, Abdullah berkata, ‘Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah akan mengumpulkan hamba-hamba di padang Mahsyar … lalu Dia menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh siapa saja yang jauh dan siapa saja yang dekat, ‘Akulah penguasa; Akulah Pembalas. Seorang manusia dari penghuni surga tidak boleh masuk surga juga seorang manusia dari penghuni neraka tidak boleh masuk neraka sementara pada dirinya terdapat kezaliman sampai aku mengqishashnya walaupun sekecil guratan …’ Abdullah melanjutkan, ‘Lalu Rasulullah saw. membaca, “Pada hari ini setiap jiwa akan dibalas atas apa yang diperbuatnya; tidak ada kezaliman pada hari ini.” (Al-Hakim Al-Naisyaburi, al-Mustadrak ‘alā al-Shahīhayn, jld. 2, hlm. 438, hadis no. 3567; al-Thabarsi, Majma‘ al-Bayān, jld. 8, hlm. 805).
  • Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Wahai umat manusia, sesungguhnya yang paling aku takutkan pada kalian ialah dua perkara: mengikuti nafsu dan angan-angan panjang. Mengikuti nafsu akan menyimpangkan dari kebenaran, adapun berangan-angan panjang akan melupakan akhirat. Ketauhilah, sesungguhnya dunia akan berlalu cepat dan tidak akan tersisa darinya kecuali sisa tetesan seperti sisa tetesan air yang dibersihkan dari wadah. Dan ketauhilah, sesungguhnya akhirat telah menyongsong. Masing-masing alam ini memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak akhirat, jangan menjadi anak dunia, karena setiap anak ayang digabungkan dengan bapaknya pada hari kiamat. Sesungguhnya hari ini adalah berbuat tanpa perhitungan, dan hari esok adalah perhitungan tanpa berbuat” (Nahj al-Balāghah, pidat no. 42).
  • Diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda, “Pada hari itu, tidak satu pun dari malaikat terdekat, nabi rasul, penjujur dan syahid kecuali ia mengira ia tidak selamat karena kerasnya hisab yang telah dilihatnya” (Jalaluddin al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsūr, jld. 13, hlm. 31).
  • Imam Ali ra. berkata, “Manfaatkanlah hari-hari sehat sebelum sakit, masa muda sebelum masa tua; segeralah bertaubat sebelum menyesal; jangan sampai kesempatan luang membuat panjang lalai kalian; sesungguhnya ajal itu menghancurkan keinginan, sementara hari-hari ditentukan oleh berkurangnya masa dan perpisahan antarkekasaih. Maka, segeralah bertaubat, semoga Allah menyayangi kalian, sebelum giliran [ajal] tiba dan songsonglah kegaiban yang tidak akan diharapkan kembali serta perolehlah bantuan dengan panjangnya ketakutan dalam menempuh panjangnya jarak” (Bihār Al-Anwār, jld. 74, hlm. 440).
  • Imam Ali ra. pernah ditanya, “Bagaimana Allah menghisab semua makhluk dengan jumlah mereka sebanyak itu?” Ia menjawab, “Itu seperti Dia memberi mereka rezeki dengan jumlah mereka sebanyak itu pula.” Lalu Imam Ali ra. ditanya lagi, “Bagaimana Allah menghisab mereka sedangkan mereka tidak melihat-Nya?” Ia menjawab, “Itu seperti juga Dia memberi mereka rezeki sedangkan mereka tidak melihat-Nya” (Nahj Al-Balāghah, hikmah no. 300). Bersambung ⇒

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.