Tadabur: QS. Hud [11]: ayat 15 (Bagian Pertama)

 

مَنْ كاَنَ يُرِيْدُ الْحَيَاةَ الدُّنْياَ وَ زِيْنَتَها نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيْهاَ وَ هُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ‏

Barangsiapa masih menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan sepenuhnya kepada mereka [hasil] pekerjaan-pekerjaan mereka di dalamnya dan mereka di dalamnya tidak akan dirugikan.”

(QS. Hud [11]: 15)

Terjemah Kata

  • مَنْ            (man)         = barangsiapa/orang yang
  • يُريدُ          (yurīdu)      = menginginkan/menghendaki
  • الْحَياةَ        (al-hayāt)   = kehidupan
  • زينَتَها        (zīnatahā)  = perhiasannya
  • نُوَفِّ         (nuwaffi)    = kami memberi secara penuh dan sempurna
  • أَعْمالَهُمْ     (a‘mālahum) = pekerjaan-pekerjaan mereka
  • لا يُبْخَسُون (ya yubkhasūn) = mereka tidak dirugikan/tidak diberi kurang

Studi Kebahasaan

  • Kāna yurīdu mengandung makna kejadian yang telah terjadi dan masih berlangsung. Karena itu, dalam terjemahan ayat, partikel ‘masih’ dibubuhkan di dalamnya.
  • Zīnah (perhiasan) berarti segala sesuatu sebagai alat dan sarana menampilkan sesuatu yang lain tampak indah (Kitāb al-‘Ayn, jld. 7, hlm. 387). Dibandingkan dengan jamāl (keindahan), perhiasan bukan berasal dari diri seseorang, tetapi sesuatu yang dipakai dan disandang oleh seseorang (Tāj al-‘Arūs, jld. 18, hlm. 267), sementara jamal mencakup keindahan diri orang itu sendiri. Oleh karena itu, kalung, anting dan semacamnya disebut dengan zīnah, tapi keindahan alami wajah atau postur tubuh disebut dengan jamāl.
  • Nuwaffi (kami memberi penuh) berasal dari akarkata wafā yang berarti menunaikan sesuatu secara penuh dan sempurna (Mu’jam Maqāyīs al-Lughah, jld. 6, hlm. 129; Mufradāt Alfāzh al-Qur’ān, hlm. 878). Wafat juga berasal dari akarkata tadi dan, karena itu, orang meninggal dunia juga disebut wafat karena ruh (hakikat manusia) dicabut sepenuhnya dan secara sempurna sehingga tidak ada sedikit pun kurang dari dirinya di alam ini.
  • Yabkhasun (mereka diberi kurang) berasal dari akarkata bakhs yang berarti kurang dan pengurangan yang merupakan penganiayaan dan kezaliman (Mufradāt Alfāzh al-Qur’ān, hlm. 110). Ungkapan tsaman-in bakhs-in yaitu seorang pembeli ingin membeli barang di bawah harga yang sebenarnya.

Hadis

  • Bayhaqi meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika tiba hari kimata, umatku menjadi tiga golongan: golongan yang menyembah Allah dengan ikhlas, golongan yang menyembah Allah dengan riya, dan golongan yang menyembah Allah dengan berhadap mendapatkan bagian dari dunia. Lalu Dia berkata kepada orang yang menyembah Allah karena dunia, ‘Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, apa yang kamu inginkan dari beribadah kepada-Ku?’ Ia menjawab, ‘Dunia.’ Allah berkata, ‘Jelaslah tidak akan berguna bagimu semua yang kamu kumpulkan dan tidak ada yang akan kembali kepada dirimu. Maka bawalah [malaikat] dia ke neraka!’ Lalu Allah bertanya kepada orang yang menyembah Allah karena riya, ‘Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, apa yang kamu inginkan dari beribadah kepada-Ku?’ Ia menjawab, ‘Riya (agar dilihat dan dipuji orang lain).’ Maka Allah berkata, ‘Sesungguhnya ibadahmu yang kamu inginkan agar dilihat orang tidak akan sampai kepadaku sedikit pun juga tidak akan berguna bagimu pada hari ini. Pergilah bawalah [malaikat] dia ke neraka!’ Lalu Allah bertanya kepada orang yang menyembah Allah dengan ikhlas, ‘Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, apa yang kamu inginkan dari beribadah kepada-Ku?’ Ia menjawab, ‘Demi keperkasaan-Mu dan keagungan-Mu, sungguh Engkau lebih tahu tentang hal itu daripada aku; aku menyembahmu karena diri-Mu dan demi rumah-Mu.’ Allah berkata, ‘Hamba-Ku, engkau benar, maka bawalah dia ke surga!’” (Jalaluddin al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, jld. 10, hlm. 181).
  • Rasulullah saw. bersabda, “Hai Ibnu Mas’ud, barangsiapa belajar al-Quran karena dunia dan perhiasannya, niscaya Allah akan mengharamkan surga darinya. Hai Ibnu Mas’ud, barangsiapa belajar ilmu tetapi tidak mengamalkan apa yang ada di dalamnya, niscaya Allah akan mengumpulkannya dalam keadaan buta di hari kiamat. Dan barangsiapa belajar ilmu karena riya dan bangga diri yang dengannya menginginkan dunia, niscaya Allah akan menabut kebaikannya yang melimpah dan mempersempit kehidupan dunianya serta Allah akan membiarkannya dengan dirinya sendiri, dan siapa saja yang dibiarkan Allah dengan dirinya sendiri pasti binasa.” (Al-Wāfī, jld. 26, hlm. 211). Bersambung ⇒

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.